Seputar Rabu Abu

SEPUTAR RABU ABU

Pada kalender liturgi (tahun gerejawi) dalam dunia Kristen Barat (termasuk gereja-gereja Reformasi/Protestan/Presbyterian seperti GKI, dll.), hari Rabu Abu (Ash Wednesday) merupakan hari pertama Masa Prapaskah (Lent), dan jatuh pada hari ke-40 (tidak termasuk hari Minggu) sebelum hari raya Paskah. Oleh karena tanggal jatuhnya hari raya Paskah berubah-ubah sesuai kalender liturgi, maka hari Rabu Abu pun tidak tetap tanggalnya – pada tahun 2022 ini jatuh pada tanggal 2 Maret 2022.

Nama “Rabu Abu” berasal dari praktek/ritual yang biasanya dilayankan pada hari itu, yaitu peneraan tanda salib dari abu pada kening/dahi umat/jemaat sebagai tanda atau simbol pertobatan. Abu yang digunakan untuk pelayanan ini biasanya berasal dari hasil pembakaran salib daun palem yang disimpan oleh masing-masing umat sejak hari Minggu Palmarum pada tahun gerejawi sebelumnya. Peneraan tanda salib dengan abu ini dilayankan oleh seorang pendeta (di Gereja Protestan) atau imam (di Gereja Roma Katolik) kepada umat/jemaat yang hadir. Sambil menerakan tanda salib, sang imam/pendeta mengingatkan umat akan makna pertobatan, dengan mengatakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15)

Abu sendiri telah digunakan sejak zaman purba, menurut kesaksian Alkitab, untuk mengungkapkan perkabungan. Menaburkan abu di kepala atau duduk di atas abu merupakan cara seseorang untuk mengungkapkan kedukaan atas dosa dan pelanggaran-pelanggarannya. Salah satu contoh penggunaan abu sebagai tanda pertobatan dapat dicermati pada Ayub 42:5-6, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” Penggunaan abu untuk menandai pertobatan dan momen mendekatkan diri kepada Tuhan dalam doa-puasa juga dilakukan oleh Daniel, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Daniel 9:3)

“Masa 40 hari pelatihan spiritual” (quadraginta dierum exercitatio) yang kemudian kita kenal sebagai Masa Prapaskah ini sudah dimulai sejak awal abad ke-4 di gereja-gereja Kristen Barat – berabad-abad sebelum terjadinya Reformasi yang “menceraikan” Gereja Reformasi/Protestan dari Gereja Roma Katolik (abad ke-16-17). Istilah hari “Rabu Abu” dan ritual peneraan tanda salib dari abu sendiri sudah dimulai sejak abad ke-10-11 – ratusan tahun sebelum Reformasi. Ini berarti, baik Masa Raya Paskah, Masa Prapaskah, dan secara khusus hari Rabu Abu, bukanlah tradisi Gereja Roma Katolik semata, melainkan merupakan tradisi iman yang dimiliki bersama oleh gereja-gereja Kristen berbagai aliran/denominasi di seluruh dunia. Bahkan, setelah Reformasi, bukan hanya Gereja Roma Katolik yang menjalankannya, melainkan juga gereja-gereja dari berbagai aliran, misalnya: Methodist, Anglican, Baptist, Lutheran, Wesleyan, dan Reformed.

GKI sebagai salah satu gereja beraliran Reformasi/Protestan juga mendorong gereja-gereja dalam kebersamaan se-Sinode GKI untuk merayakan Masa Raya Paskah, dan mengawalinya dengan ibadah pada hari Rabu Abu. Bahan Masa Raya Paskah selalu memasukkan ibadah Rabu Abu sebagai bagian dari ibadah-ibadah khusus selama Masa Raya Paskah.

Momen Rabu Abu dijalani bukan saja untuk mengingat kematian Yesus, namun juga untuk membawa umat kepada kesadaran akan keberdosaan dirinya. Rabu Abu merupakan momen refleksi-introspeksi, yang bernuansa gelap/berkabung, namun penting, untuk merenungkan hal-hal apa saja yang perlu dipertobatkan dan diubah dalam kehidupan kita, demi menjadi Kristen yang sejati.

Warna liturgis Rabu Abu – sebagaimana warna liturgis untuk keseluruhan Masa Prapaskah – adalah warna ungu atau ungu tua. Warna ini menyimbolkan penderitaan dan penyaliban Yesus, begitu pula penderitaan manusia di dunia akibat kuasa dosa. Namun demikian, warna ungu juga menyimbolkan keagungan, yang melambangkan bahwa melalui penderitaan dan kematian Yesus, akan datang keagungan dan pengharapan pembaruan yang dirayakan dalam kebangkitan Yesus di hari raya Paskah.

Perjalanan iman menuju kemenangan Kristus perlu diawali dengan penghayatan akan kematian-Nya, bahkan didahului dengan Masa Prapaskah, di mana umat menempatkan dirinya dalam kerendahan di hadapan Allah. Rabu Abu merupakan momen yang tepat untuk mengakui ketidaklayakan diri di hadapan Allah, saat untuk membuka diri di hadapan-Nya, dan mengingat, bahwa kita sesungguhnya hanyalah debu dan abu. Firman Tuhan dalam II Tawarikh 7:14, “… dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” Firman ini kiranya menginspirasi kita untuk menggunakan momen Rabu Abu kali ini untuk merendahkan diri, berdoa, berpuasa, mencari wajah Allah, dan mencari kehendak-Nya.