Seputar Paskah Seri 2

RABU ABU, PERTOBATAN & PUASA

Adalah hari pertama pembuka rangkaian masa pra Paskah, yakni masa pertobatan, perkabungan, introspeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Secara umum dalam tradisi Israel, abu melambangkan kefanaan manusiawi (Kej 3:19; 18:27), agar manusia menyesali diri dan bertobat (Yos 7:6; 2 Sam 13:19; Est 4:3; ayb 2:12; Yes 58:5-7; Yeh 27:30; dan 9:3; Yun 3:6; Yudit 9:1; bnd. Yl 2:12-13; Mrk 1:15). Sejak abad ke-4 Masehi hingga abad ke-10 Masehi, istilah Rabu Abu belum muncul. Semula hari pra Paskah pertama jatuh pada hari Minggu caput quadragesima, bukan sebelumnya. Namun, jumlah hari berpuasa menjadi tidak genap empat puluh hari, hanya tiga puluh enam hari. Maka pada abad ke-6 Masehi, masa pra Paskah dimulai sejak hari Rabu (tapi belum disebut Rabu Abu), sehingga jumlah hari puasa menjadi genap empat puluh hari.

Lambat laun, Gereja memperpanjang masa pra Paskah hingga beberapa hari Minggu sebelumnya. Menjelang abad ke-8 di Roma, pra Paskah mulai dilakukan pada quinquagesima (lima puluh hari, hari Minggu ke-7 sebelum Paskah), sextagesima (enam puluh hari, hari Minggu ke-8 sebelum Paskah), dan setuagesima (tujuh puluh hari, hari Minggu ke-9 sebelum Paskah), sebelum hari Rabu. Setelah hari Rabu itu, hari-hari selanjutnya, yaitu: Kamis, Jum’at, dan Sabtu, difokuskan sebagai hari Yesus Teladan umat beriman, berpaling kepada Allah dan mengikuti-Nya, berpuasa, derma, dan menghayati jalan salib. Keempat hari tersebut diisi dengan pelatihan-pelatihan spiritualitas. Pra Paskah dimulai sejak Rabu Abu hingga Kamis Putih.

Namun, hari Rabu Abu dengan menaburkan abu baru dilakukan secara resmi pada abad ke-13 Masehi.
Gereja-gereja Protestan di Indonesia dewasa ini, memulai Pra Paskah pada quinquagesima.
Berangsur-angsur penggunaan abu baru terjadi pada akhir abad ke-11 Masehi hingga abad ke-13 Masehi, dari Rhenish ke Italia dan Roma oleh Paus sendiri.

Paus Urbanus II dalam sinode Benevento (tahun 1091) merekomendasikan penggunaan abu di setiap Gereja. Beberapa saat kemudian muncul doa-doa mengiringi penaburan abu; imam dan laki-laki menaburkannya diatas kepala, perempuan membubuhkannya di dahi. Dari manakah abunya diperoleh? Pada abad ke-12, pertama kalinya abu diambil dari daun palem yang dikeringkan sejak Minggu Palem setahun sebelumnya. Itulah sebabnya, orang Kristiani meletakkan daun palem yang dibawanya hari Minggu Palem di patung salib di rumahnya. Penggunaan abu sebagai tanda pertobatan dan perkabungan sebelumnya terbatas pada ritus pribadi. Bahkan hingga tahun 1970, penaburan abu dilakukan sebelum kebaktian. Baru kemudian, abu ditaburkan kepada umat setelah Injil dan khotbah dengan formula: “ingatlah, kamu adalah debu dan akan kembali pada debu” (Kej 3:19), atau –di zaman modern digunakan- “bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15); sebelum masuk dalam liturgi firman.

PUASA

Hampir sebagian besar gereja-gereja Reformatoris belum memberlakukan hari Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra Paskah. Mereka menganggap bahwa ibadah Rabu Abu sebagai suatu ibadah yang diambil alih dari gereja Roma Katolik. Padahal anggapan tersebut tidaklah benar. Ibadah Rabu Abu justru diambil dari ibadah umat Israel di dalam Perjanjian Lama untuk menghayati sikap merendahkan diri dan bertobat di hadapan Allah. Setelah Allah menghukum umat Israel dengan menyerahkannya kepada kekuasaan Babel, maka disebutkan umat Israel menyatakan sikap dengan cara: “Duduklah tertegun di tanah para tua-tua puteri Sion; mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah” (Rat. 2:10).

Dasar teologis umat Israel menabur abu di atas kepala sebenarnya untuk mengingatkan bahwa mereka sesungguhnya diciptakan oleh Allah dari debu tanah. Makna manusia diciptakan oleh Allah dari “debu tanah” menunjuk kepada kefanaan, terbatas, lemah dan berdosa. Umat diingatkan akan hakikat hidupnya yang hanya bersumber kepada kasih dan anugerah Allah semata, sehingga tidak memiliki dasar sedikitpun untuk bermegah diri. Apalagi saat mereka menghadapi penderitaan, malapetaka dan kesedihan. Umat terdorong oleh sikap iman untuk merendahkan diri, memohon pengampunan akan dosa-dosa yang telah diperbuat dan pernyataan pertobatan kepada Allah melalui puasa. Dengan demikian hakikat puasa sebenarnya untuk mengembalikan kesadaran umat kepada tujuan dan makna hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan kesadaran diri yang dinyatakan melalui pertobatan tersebut diharapkan dapat terjalin kembali komunikasi dengan Allah. Kesadaran diri tersebut dilandasi oleh sikap iman, yaitu bahwa pada hakikatnya Allah adalah Sang Pengasih, Penyayang, Panjang Sabar dan Berlimpah Kasih Setia (bdk. Yun. 4:2b); maka pastilah Allah berkenan mengasihi dan mengampuni orang yang merendahkan diri di hadapanNya. Karena itu ibadah puasa kemudian dijadikan bagian liturgi yang dilaksanakan secara khusus dan berkala setiap tahun agar umat dapat secara teratur menghayati keberadaannya yang membutuhkan pengampunan Allah, sehingga mereka tidak lalai merendahkan diri dan senantiasa hidup dalam pertobatan.

Ibadah Rabu Abu sebagai awal dari masa Pra-Paskah yang ditandai dengan puasa selama 40 hari perlu dihayati bukan sekedar suatu rutinitas ibadah, tetapi seharusnya menjadi suatu rangkaian ibadah yang membebaskan kita dari belenggu kelemahan diri dan dosa. Sehingga puasa bukan sekedar menjalankan ritual-seremonial, tetapi menjadi sarana perjumpaan Allah dan umat yang telah ditransformasikan untuk melakukan kasih dan keadilan. Allah memanggil umat untuk memberlakukan puasa sebagai media transformasi yang sifatnya memerdekakan setiap sesama yang menderita. Allah berfirman: “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7). Jadi yang terpenting bukan segi formalitas ritualitasnya, tetapi bagaimanakah dampak atau efek dari melakukan ibadah puasa yang telah kita laksanakan. Apakah puasa makin mendorong atau memotivasi kita untuk peduli dengan mereka yang lapar, miskin, putus-asa dan tak memiliki rumah? Apakah kita mau membebaskan diri dari zona nyaman (comfort zone), sehingga kita sungguh-sungguh mampu bersikap konsisten untuk membela hak orang yang tertindas dan teraniaya? Komitmen iman tersebut akan menjadi suatu kenyataan hidup ketika dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah tergoda untuk mencari pujian bagi diri kita sendiri sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus. Sebab orang-orang Farisi waktu itu sering menggunakan “topeng” saat berpuasa agar dilihat dan dipuji oleh sesamanya (Mat. 6:16).

Dengan refleksi selama menjalankan puasa, kita akan mampu berkorban dan berbagi untuk sesama yang menderita manakala orientasi hidup kita tidak fokus pada “money-oriented” atau penghimpun kekayaan; tetapi orientasi hidup kita yang utama adalah bersedia menjadi alat Allah untuk menyatakan kebenaran, keadilan dan pengampunanNya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19).

Berulang-ulang Tuhan Yesus mengaitkan ajaran tentang makna berdoa, sedekah dan berpuasa dengan prinsip “ketersembunyian”. Apabila kita berdoa, memberi sedekah dan berpuasa hendaknya dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain/sesama: “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:18b).
Dengan demikian, belenggu hawa-nafsu duniawi kita yang senang dengan pujian dan mengutamakan kepentingan diri sendiri akan terpatahkan manakala kita memberlakukan prinsip “ketersembunyian”. Sebab makna spiritualitas ketersembunyian pada hakikatnya adalah suatu perwujudan kasih yang dilandasi oleh iman dan integritas diri, sehingga mencegah kita untuk memamerkan kepada orang lain hal-hal yang seharusnya cukup diketahui dan dinilai oleh Allah saja. Karena itu spiritualitas ketersembunyian dalam puasa yang dilakukan selama masa Pra-Paskah pada hakikatnya merupakan penaklukan atau penyangkalan diri yang mengandalkan sepenuhnya anugerah kasih Allah, sehingga terbukalah ruang spiritualitas yang makin efektif untuk melakukan karya Allah yang membebaskan. Jika demikian, melalui puasa kita makin dimampukan oleh Allah untuk membebaskan diri dari belenggu karakter, kebiasaan, pola hidup, pola pikir dan nafsu duniawi yang menghalangi kita untuk melakukan kehendak Allah. Sehingga kehidupan kita makin dibentuk, dimurnikan dan dikuduskan oleh Allah untuk mencerminkan gambar dan rupaNya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).

Bagaimana cara kita berpuasa?

Terserah kepada pribadi masing-masing serta kondisi kesehatan dalam menjalani puasa. Tentukan sendiri jangka waktunya: 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, 40 hari, dst. Tentukan jenis puasanya: hanya makan sayur, tidak makan, tidak makan dan tidak minum, Puasa dengan berpantang kebiasaan buruk seperti: tidak merokok, tidak berjudi, mengendalikan amarah, dll atau puasa dengan berpantang hal-hal yang sangat disukai seperti: tidak makan makanan kesukaan, dll. Sebaliknya mengisi waktu dengan berdoa, membaca alkitab, memuji Tuhan, dan bersedekah.

PUASA YANG SEJATI
Yesaya 58:1 – 12

Nabi Yesaya bin Amos secara serius mengingatkan umat Yehuda agar kembali bertobat kepada TUHAN karena selama ini mereka mengalami kemerosotan moral yang hebat. Untuk itu ia bernubuat dengan suara lantang bagaikan sangkakala (ay.1). Kondisinya semakin parah karena umat Allah (Yehuda) rupanya jatuh pada penghayatan agama yang legalistic – formalistic (mengutamakan formalitas sesuai dengan aturan/hukum agama yang berlaku), namun secara hakiki mereka jauh dari Allah (ay.2). Yesaya menegaskan bahwa PUASA yang tidak dilandasi oleh spiritualitas yang benar adalah sia-sia belaka (ay.3-4 “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi)

PUASA yang dikehendaki Allah adalah “merendahkan diri” dan “mewujudkan keadilan” kepada sesama (ay.6), mewujudkan “cinta kasih” dan kepedulian kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita (ay.7). Bila hal itu dilakukan maka ada berkat TUHAN yang pasti diterima, yaitu:
• Ada pengharapan di tengah kesesakan dan pergumulan (ay. 8, 10)
• Ada relasi yang baik dengan Tuhan (ay. 9)
• Ada pengharapan di dalam Tuhan (ay. 10)
• Ada pertolongan Tuhan (ay. 11)
• Ada jaminan keberhasilan (ay. 12, 14)

Dari uraian tersebut, kita bisa menarik kesimpulan bahwa PUASA bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. PUASA juga bukan sekedar memenuhi Hukum Agama.

Namun lebih dari itu semua bahwa PUASA adalah kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan terhadap sesama manusia.

Bagaimana cara kita berpuasa?

Terserah pribadi masing-masing. Tentukan sendiri jangka waktunya: 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, 40 hari, dst. Tentukan jenis puasanya: hanya makan sayur, tidak makan, tidak makan dan tidak minum, atau puasa kebiasaan jelek seperti: tidak merokok, tidak berjudi, dll. Perbanyak waktu untuk berdoa, melantunkan pujian penyembahan dan membaca Alkitab supaya lebih efektif.