Nikmati Apa yang Diberikan Tuhan

Nikmati Apa yang Diberikan Tuhan

12 Juli 2022

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 5:19 “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itu pun karunia Allah.”

Alkitab mengatakan dalam 1 Timotius 6:17 bahwa “melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” Itulah Tuhan yang kita sembah. Dia memberi kita dunia agar kita dapat menikmatinya!
Tetapi ini masalahnya: Kita menjadi sangat sibuk mencari lebih banyak kebahagiaan sehingga kita tidak menikmati apa yang sudah kita miliki.

Kunci dari kepuasan hidup ialah dengan belajar menikmati apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita. Pengkhotbah 5:19 mengatakan, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itu pun karunia Allah.”

Alih-alih menginginkan lebih, fokuslah pada apa yang telah Anda miliki sekarang. Buka mata Anda, hargailah apa yang telah Tuhan beri dan nikmati apa telah yang Anda miliki.

Salah satu hobi saya adalah menyaksikan matahari terbit dari atas lereng di halaman kami. Saya meletakkan sebuah kursi malas di sana, sekitar 20 tahun yang lalu. Saya membelinya di Target dan harganya pun tidak mahal. Sekarang warnanya sudah memudar, dan beberapa bilahnya sudah rusak. Saya suka duduk di kursi tua yang lusuh itu sambil menyaksikan matahari terbit. Itu memberi saya sukacita besar!
Apakah sukacita saya akan bertambah jika duduk di kursi bertahtakan berlian, ketimbang di atas kursi tua yang sudah usang itu? Tidak, itu tidak akan menambah kebahagiaan saya sedikit pun. Malah sebenarnya ada untungnya tidak memiliki kursi malas yang bertahtakan berlian dan cukup puas dengan kursi usang—tidak ada seorang pun yang akan mencurinya!

Anda perlu bertanya pada diri sendiri, “Apa yang tidak saya nikmati saat ini?” Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab “jika dan maka”: Jika ini terjadi, maka saya akan bahagia.” “Jika saya punya pacar, maka saya akan bahagia.” “Jika saya menikah, maka saya akan bahagia.” “Jika saya punya anak, maka saya akan bahagia.” “Jika anak-anak lulus sekolah, maka saya akan bahagia.” “Jika saya menikah lagi, maka saya akan bahagia.”

Tetapi ini yang benar: Anda bahagia ketika Anda memilihnya. Jadi, jika sekarang Anda merasa tak bahagia, ke depannya Anda pun tidak akan bahagia. Kebahagiaan adalah pilihan!

Saya bisa membawa Anda ke tempat termiskin di dunia dan tunjukkan pada Anda dua orang yang tinggal bersebelahan. Yang satu hidup sengsara, dan yang lainnya bahagia. Mengapa? Karena kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan keadaan Anda, tetapi bergantung dari bagaimana Anda menyikapinya.

Jika Anda tidak senang dengan apa yang Anda jalani saat ini, saya bisa jamin Anda tidak akan lebih bahagia meski memiliki lebih di kemudian hari. Sebab terlepas dari apa pun yang Anda punya, Anda pasti akan selalu menginginkan sedikit lebih banyak.

Renungkan hal ini:
– Apa yang telah Tuhan beri pada Anda tetapi belum juga Anda nikmati sepenuhnya?
– Apa yang selama ini Anda tunggu untuk merasa bahagia?
– Jika kebahagiaan adalah sebuah pilihan, mengapa orang memilih untuk tidak bahagia?

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 4-6; Kisah Para Rasul 17:16-34

Kebahagiaan adalah pilihan. Jadi sekarang juga, pilihlah untuk menikmati apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada Anda!
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)