Masa paskah 2022 GKI Pakuwon

Masa paskah 2022 GKI Pakuwon

Kemenangan Untuk Kehidupan

(Lukas 24:5)

Kehidupan sehari-hari yang diliputi berbagai pergumulan kerap membuat kita kehilangan semangat, pengharapan dan melihat hidup dengan kacamata pesimis. Dampaknya hidup kehilangan gairahnya. Sebagai pengikut Yesus, kita diajak untuk mengubah hidup yang seperti itu. Dari pesimisme diubah menjadi optimis. Hal itu akan selalu ada bila cara pandang kita didasarkan pada semangat hidup Yesus Kristus Tuhan kita.

Di Masa Paska 2022 ini kita diajak untuk menemukan makna di balik peristiwa hidup sehari-hari bersama Yesus yang bangkit. Melalui tema,” Kemenangan Untuk Kehidupan” kita diundang untuk menghayati betapa berharganya hidup karena rahmat Kristus melalui kehadiran-Nya ke dunia, pengurbanan, kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Iman kristen adalah iman yang pro kehidupan. Kisah Paska menjadi salah satu buktinya. Lewat kebangkitan, Yesus nampaklah bahwa bukan penderitaan dan salib yang menjadi puncak iman kristen. Penderitaan dan salib adalah bukti cinta kasih yang menjadi tanda semangat kehidupan. Sebagai persekutuan yang menghidupi iman pada kebangkitan, orang-orang kristen dan gereja Tuhan turut dipanggil menghidupi budaya kehidupan kini dan di sini.

Paska, kebangkitan Kristus juga menjadi seruan bagi pengikut Yesus untuk mengikut jejak-Nya.  Yesus yang dibangkitkan menunjukkan bahwa Ia yang hidup menghendaki para murid untuk memperjuangkan kehidupan. Perspektif ini terlihat dengan pernyataan Lukas, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati?” (Luk. 24:5). Pada kesempatan yang lain Yesus juga berkata, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan memilikinya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Yesus menghadirkan nilai-nilai kehidupan, bukan kematian. Mengimani Yesus yang bangkit berarti belajar menghadirkan nilai-nilai kehidupan.

Pelaksanaan Ritus Khas Masa Raya Paskah secara Online

Ada beberapa ritus khas yang akan kita lakukan sepanjang Masa Raya Pra Paskah. Oleh karena ibadah masih dilakukan secara daring, maka ritus khas di hari-hari raya gerejawi tersebut juga harus disesuaikan agar dapat diikuti oleh umat yang berada di rumah.

 

  1. Rabu Abu

Ritus khas dalam Liturgi Rabu Abu adalah penorehan abu. Biasanya, abu akan ditorehkan di dahi umat oleh pendeta atau oleh umat sendiri dengan saling menorehkan. Pandemi Covid-19 membuat ritus penorehan abu tidak dapat dilakukan dengan cara yang biasa. Selain karena sebagian besar umat akan mengikuti ibadah dari rumah, kita juga sedang menjaga jarak sehingga pantang untuk saling bersentuhan.

 

Mempertimbangkan hal tersebut, maka ritus penorehan abu harus dilakukan masing-masing dengan menorehkan abu di dahi sendiri. Secara teologis, hal ini dimungkinkan karena ritus penorehan abu bukanlah sakramen sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja—tidak harus oleh pendeta. Dalam pelaksanaannya, saat liturgi masuk ke bagian penorehan abu, pendeta akan memandu umat untuk menorehkan abu di dahi masing-masing. Saat umat menorehkan abu di dahinya, umat diajak untuk menyerukan “Aku adalah debu dan akan kembali menjadi debu.”

 

Bagi para pelayan ibadah di gedung gereja (ataupun jemaat yang sudah melakukan kebaktian di gedung gereja/onsite), wadah abu tidak bisa digunakan secara bersama karena rawan untuk menularkan virus. Oleh karena itu, Majelis Jemaat/Panitia harus menyiapkan wadah kecil yang berisi abu sebanyak orang yang hadir di gereja.

 

Terkait pengadaan abu bagi umat yang berada di rumah,. Pertama, abu dapat disiapkan oleh gereja dan dibagikan kepada umat. Alternatif pertama ini dapat mencerminkan tannggungjawab Majelis Jemaat selaku penyelenggara ibadah melayani umat. Kedua, umat dapat mempersiapkan sendiri abu di rumah masing-masing. Yang paling baik, abu dibuat dari daun palem kering yang dibakar, kemudian diberi sedikit air/minyak wangi/aroma terapi agar abu mudah ditorehan di dahi. Selain itu, abu dapat dibuat dari bakaran daun-daun kering lainnya.

 

  1. Minggu-Minggu Pra-Paskah

Di tengah keberagaman gereja melakukan ritus penyalaan atau pemadaman lilin, ritus yang akan dilakukan selama Minggu Pra-Paskah adalah penyalaan lilin. Ritus pemadaman lilin sendiri akan dilakukan pada Kamis Putih.

 

Oleh sebab itu, umat dapat dihimbau menyiapkan rangkaian lilin Pra-Paskah yang terdiri dari 6 lilin berwarna ungu dan 1 lilin berwarna putih. Jika tidak memungkinkan, lilin dapat menggunakan warna apa saja.

 

Lilin putih selalu dinyalakan setiap ibadah. Jadi, sebelum ibadah dimulai, pastikan lilin putih sudah menyala. Lilin ungu baru dinyalakan bersama-sama dengan prosesi penyalaan lilin di gedung gereja—yang ditayangkan secara daring. Lilin dinyalakan secara progresif (setiap minggu bertambah 1 lilin yang dinyalakan).

 

  1. Minggu Palmarum-Sengsara

Dalam minggu Palmarum-Sengsara pada hari Minggu 28 Maret 2021, umat di rumah diharapkan mempersiapkan daun palem. Daun palem akan digunakan dengan melambaikannya pada saat menyanyikan NKB 74 “Hosana” dan juga pada liturgi Salam.

 

  1. Kamis Putih

Dalam ibadah Tenebrae Kamis Putih, enam lilin Pra-Paskah (warna ungu) dan satu lilin Kristus (warna putih) yang sudah dinyalakan selama minggu-minggu Pra-Paskah akan dipadamkan satu per satu—sesuai dengan urutan yang dipandu oleh Pelayan Liturgi. Oleh sebab itu, ketujuh lilin sudah menyala sebelum umat mengikuti Ibadah Tenebrae Kamis Putih. Di bagian akhir ibadah ini, lilin putih akan dinyalakan kembali, yang akan dipandu oleh Pelayan Firman.

 

 

  1. Paskah

Ritus khas dalam kebaktian Paskah adalah penyalaan lilin Paskah. Di rumah masing-masing, umat menyiapkan satu lilin putih yang belum menyala. Lilin baru dinyalakan sesuai petunjuk dalam liturgi.

 

AKSI PRA-PASKAH

AKSI PRA-PASKAH mengajak umat melakukan aksi penyangkalan diri dengan mengumpulkan uang di dalam celengan yang ada di rumah masing-masing. Pada saat Paskah, celengan dikumpulkan dan jemaat masing-masing dapat menentukan alokasi penyaluran dana Pra-Paskah ini. Hal ini dilakukan sebagai bentuk latihan spiritualitas untuk pengendalian diri dan berbagi.

 

PAKET MASA RAYA PASKAH UNTUK UMAT

Terkait dengan ritus-ritus dan aksi Pra-Paskah, Majelis Jemaat akan menyediakan Paket Masa Raya Paskah untuk dibagikan kepada umat. Paket berisi abu untuk penorehan abu, celengan untuk Aksi Pra-Paskah, dan juga hosti/anggur untuk menyelenggarakan Perjamuan Kudus di Jumat Agung.