Kemerdekaan untuk Memilih Apa yang Benar

Kemerdekaan untuk Memilih Apa yang Benar

 

02 November 2022

 

Bacaan Hari ini:

Roma 6:6-7 “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.”

 

 

Allah memberikan empat kemerdekaan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kita sudah mempelajari dua yang pertama: *hati nurani yang bersih dan akses langsung kepada Allah.* 

 

Hari ini kita akan mempelajari yang ketiga, yaitu *kekuatan untuk melakukan apa yang benar.*

 

Kebanyakan orang beranggapan kemerdekaan berarti tidak ada aturan, tidak ada batasan, atau tidak ada hukum—malah ini adalah suatu cara pandang yang sempit. *Justru kemerdekaan merupakan kekuatan yang berkat kemurahan hati Allah diberikan kepada Anda untuk berkata “ya” untuk hal-hal yang baik dan “tidak” untuk hal-hal yang membahayakan.*

 

Jika Anda tak memiliki kekuatan untuk mengatakan “tidak,” ada satu kata untuk hal itu: *kecanduan. Dan kecanduan membentuk obsesi dan kompulsi dalam hidup Anda.* Alkitab mengajarkan, “Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu” 

(2 Petrus 2:19).

 

Saya pernah membaca sebuah cerita tentang saudara laki-laki dan perempuan yang didorong oleh orang tua mereka untuk “menemukan kebahagiaan Anda sendiri.” Rumah mereka tidak ada batasan, dan mereka diizinkan untuk bereksperimen dengan seks dan narkoba. Apa akibatnya? 

Pada saat mereka berusia 20-an, hidup mereka di luar kendali.

 

Si kakak laki-laki ini segera menyadari, “Kebebasan saya ini sama sekali bukan kebebasan. Di luar, saya tampak menikmati hidup. Tetapi di dalam hati saya diperbudak oleh ketakutan, ketidakamanan, dan kecanduan saya. Saya membutuhkan seseorang untuk membebaskan saya dari diri saya sendiri.”

 

Itulah yang kita semua butuhkan: *seseorang yang bersedia membebaskan kita dari diri kita sendiri.*

 

Pernahkah Anda berpikir, “Mengapa saya mengabaikan orang yang paling saya cintai? Mengapa saya selalu cemas dan takut? Bagaimana cara menghentikannya?” Inilah hal-hal yang mungkin telah Anda coba ubah tentang diri Anda, tetapi Anda tak punya kekuatan untuk mengubahnya.

 

*Kekuatan seperti itu hanya berasal dari Allah.*

 

Paulus menyuarakan ini dalam Roma 7:24-25: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.”

 

Mengapa Yesus Kristus adalah jawabannya? 

Sebab Dia berjanji, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” 

(Yohanes 8:36).

 

Kemerdekaan bukan hanya tidak memiliki batasan. *Kemerdekaan yang sepenuh merupakan kemerdekaan untuk berkata “ya” buat hal-hal yang meningkatkan kesehatan Anda, meningkatkan kebahagiaan Anda, dan mengisi hidup Anda dengan hal-hal yang penting.*

 

Renungkan hal ini:

– Ketika Anda merenungkan 2 Petrus 2:19, ” Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu,” menurut Anda mengapa Allah sangat membenci dosa?

– Jelaskan satu saat di mana Anda perah mencoba mengubah tingkah laku Anda dengan kekuatan Anda sendiri. Bagaimana hasilnya?

– Berdasarkan renungan ini, bagaimana Anda akan menasihati seseorang yang sangat ingin menghentikan pola hidup mereka yang destruktif tetapi tidak berhasil?

 

 

 Bacaan Alkitab Setahun :

Yehezkiel 19 – 22; II Timotius 2:1-13 

 

 

*Kemerdekaan yang sepenuh ialah kekuatan untuk melakukan apa yang benar.*

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)