Kebahagiaan Berasal dari Kerukunan dan Kerendahan Hati

Kebahagiaan Berasal dari Kerukunan dan Kerendahan Hati

16 Juni 2022

Bacaan Hari ini:
Filipi 2:6-8 “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Kebahagiaan datang dari kerukunan, dan kerukunan datang dari kerendahan hati. Jika Anda ingin menjadi orang yang rendah hati, Anda harus belajar bertanya pada diri sendiri pertanyaan ini: “Apa yang akan Yesus lakukan jika Dia jadi aku?”

Apa yang akan Yesus lakukan dalam masalah ini?
Apa yang akan Yesus lakukan kepada orang yang tengah terluka? Apa yang akan Yesus lakukan di kantor?
Di lapangan golf?
Di dalam masalah pernikahan Anda?

Tanyakan pertanyaan ini, dan Anda akan selalu menemukan jawaban sederhana yang mengarah pada keharmonisan dan kebahagiaan, daripada mengarah kepada kesulitan, kekalahan, kepahitan, dan kebencian.

Lalu apa artinya bertindak seperti Yesus?
Filipi 2 memberikan tiga contoh:

Jangan menuntut apa yang menurut Anda pantas Anda dapatkan. “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”
(Filipi 2:6).
Apakah Anda menyadari bahwa menyerahkan hak Anda atas sesuatu begitu bertentangan dengan pola pikir dunia? Memang Anda punya hak, tetapi ketimbang menuntut hak Anda, ada cara yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan Anda. Anda bisa menjadi lemah lembut tanpa harus menyerah, dan Anda bisa mengerti tanpa harus menuntut.

Cari cara untuk bisa melayani. “Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”
(Filipi 2:7).
Jika Anda ingin menjadi seperti Yesus, Anda harus belajar melayani. Melayani merupakan kebiasaan yang dapat Anda latih. Dan itu tidak dimulai dari hal-hal besar, melainkan dari hal-hal kecil dalam hidup. Karakter kita tampak di tengah-tengah krisis kehidupan, tetapi itu dibangun lewat hal-hal kecil sehari-hari, seperti mengembalikan kereta belanja ke tempatnya setelah kita selesai berbelanja.

Lakukan apa yang benar, bahkan jika itu menyakitkan. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”
(Filipi 2:8).
Ini yang dimaksud bertindak seperti Yesus. Apa yang Yesus lakukan, bahkan saat Dia kesakitan? Dia mengerti dan tidak menuntut hak-Nya. Dia mencari cara untuk melayani. Dan memang, Dia adalah seorang hamba dalam setiap situasi.

Yesus adalah teladan kerendahan hati yang tertinggi dan Allah memberikanNya kehormatan terbesar di alam semesta. Demikian pula dengan Anda, Allah juga menghormati kerendahan hati Anda ketika Anda mengikuti teladan Yesus.

Renungkan hal ini:
– Apa saja cara untuk bisa “lemah lembut tanpa harus menyerah” atau “mengerti tanpa harus menuntut” dalam suatu hubungan?
– Bagaimana selama ini Anda melihat Allah menghargai kerendahan hati dalam hidup Anda atau orang lain?
– Bagaimana Anda bisa melayani seseorang hari ini tanpa harus diminta?

Bacaan Alkitab Setahun :
Nehemia 4-6; Kisah Para Rasul 2:22-47

Setiap hari Tuhan menguji kerendahan hati Anda dalam perkara-perkara kecil untuk kemudian terlihat nyata dalam perkara-perkara yang besar.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)