Jangan Biarkan Keangkuhan Memandu Anda

Jangan Biarkan Keangkuhan Memandu Anda

14 Juni 2022

Bacaan Hari ini:
Filipi 2:3 “Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.”

Setiap konflik yang Anda alami dalam sebuah hubungan pasti ada unsur keangkuhan terlibat di dalamnya.

Apa huruf tengah dari kata “pride (kesombongan)”?
I (saya).
Apa huruf tengah dari kata “crime (kejahatan)”?
I (saya).
Apa huruf tengah dari kata “sin (dosa)”?
I (saya)

Kita semua punya masalah “saya!” “Saya” mau itu, dan “saya” mau itu ada sekarang juga—pada akhirnya ini mencetuskan segala macam masalah. Bahkan keangkuhan ialah akar dari dosa-dosa lainnya. Oleh karena itu, dalam hubungan apa pun, jangan pernah biarkan keangkuhan memandu Anda.

Alkitab berkata, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”
(Filipi 2:3).

Dalam ayat ini, Paulus membahas dua macam keangkuhan yang menciptakan konflik. Salah satunya ialah ambisi egois, dan yang satunya lagi ialah tinggi hati.

Ambisi egois berkata, “Ini semua tentang saya.” Sementara tinggi hati berkata, “Saya selalu benar.”

Ambisi egois menyebabkan segala macam masalah. Yakobus 3:16 mengatakan, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”
Ketika Anda mengalami kegalauan di tempat kerja Anda, gereja Anda, rumah Anda, pernikahan Anda, atau bahkan dengan pemerintahan, ketahuilah bahwa ambisi dan kecemburuan egoislah penyebabnya.

Tinggi hati adalah sikap di mana Anda merasa selalu benar. Terjemahan lain dari Filipi 2:3 mengatakan, “Jangan mementingkan diri sendiri; jangan hidup sekadar untuk memberi kesan baik kepada orang lain. Hendaklah rendah hati dengan menganggap orang lain lebih baik daripada Saudara sendiri” (FAYH).

Orang-orang melakukan ini di tiap area kehidupan, tapi ini sangat jelas terlihat di media sosial; sungguh suatu godaan besar untuk membuat diri Anda terlihat lebih hebat di Internet daripada di kehidupan nyata.

Dalam kitab Galatia, Paulus menyebutkan berbagai akibat dari hidup dengan keangkuhan. Dia mengatakan bahwa, ketika Anda menjalani kehidupan yang egois, keangkuhan akan muncul dalam berbagai macam bentuk. Dia menyebutkan beberapa bentuk yang nyata—memuaskan hawa nafsu, pesta pora dan mabuk mabukan. Tetapi sebagian besarnya adalah dosa yang berkaitan dengan orang lain.

Galatia 5:19-21 mengatakan, “Tetapi, apabila Saudara menuruti kecenderungan yang salah itu, hidup Saudara akan menghasilkan kejahatan-kejahatan ini: pikiran kotor, hawa nafsu, penyembahan berhala, kepercayaan kepada roh-roh jahat, kebencian dan perkelahian, iri hati dan amarah, usaha untuk memperoleh yang paling baik untuk diri sendiri, keluhan dan celaan, perasaan bahwa semua orang bersalah kecuali kelompoknya sendiri — dan akan timbul ajaran yang salah, kedengkian, pembunuhan, pemabukan, pesta liar, dan sebagainya. Sekali lagi saya katakan, bahwa siapa juga yang hidup seperti itu, tidak akan mewarisi Kerajaan Allah.”

Keangkuhan menyebabkan semua jenis perselisihan.

Bila Anda ingin bahagia dalam hubungan Anda, maka Anda harus hidup rukun.

Renungkan hal ini:
– Manakah dari hubungan-hubungan Anda yang dipimpin oleh keangkuhan? Manakah yang dicirikan dengan kerendahan hati?
– Apa saja cara praktis yang bisa Anda lakukan untuk mempertahankan kerendahan hati dalam suatu hubungan?
– Bagaimana selama ini Anda telah menyaksikan kesombongan merusak atau menghancurkan beberapa hubungan Anda? Apa yang dapat Anda lakukan hari ini untuk membantu memulihkan koneksi-koneksi tersebut?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ezra 9-10; Kisah Para Rasul 1

Jika Anda ingin hidup rukun, Anda harus memiliki kerendahan hati. Jangan pernah biarkan keangkuhan menjadi pemandu Anda.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)