Gemass 7 Juli 2022

Kamis, 7 Juli 2022

~~~~~

📖 GEMASSreguler 2022 – FIRMAN UNTUK SEMUA

Tersedia dalam apps GKI Layur

http://bit.ly/GKILayurApps

~~~~~

🗓 Hari 172

Bagian 10 : NABI-NABI DI MASA PEMBUANGAN

Bacaan hari ini: Yeremia 14-17       

Ungkapan doa: Mazmur 17

~~~~~

ALKITAB SUARA

🎧 GEMASS – Hari 172

https://drive.google.com/folderview?id=18gMcTiDc4EbotCv1VDRtkVWaT_C0NJk2

 

🌟 Yeremia 17:7 (TB) 

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

 

💡Sebagai orang percaya milikilah keberanian untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.  Inilah yang disebut mengandalkan Tuhan! 

Jadi mengandalkan Tuhan itu harus disertai iman dan perbuatan yaitu penyerahan diri. Iman adalah percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan, dan mengandalkan Tuhan berarti komitmen untuk melakukan apa yang dipercayai.

 

🙏 Doa :

Ajar aku Tuhan untuk selalu berpegang teguh dan hidup dalam Firman-Mu saja . Amin.

~~~~~

Bacaan besok : Yeremia 18-22       

Ungkapan doa : Mazmur 18

 

Kamis, 7 Juli 2022

~~~~~

📖 GEMASSplus SH KITAB – 2022

Membaca dan menggali firman Tuhan lebih dalam lagi – Santapan Harian Gemass edisi KITAB AYUB

 

Bacaan hari ini : Ayub 7:1-21

Doa ⇒ Baca ⇒ Renungkan ⇒ Bandingkan ⇒ Doa

~~~~~

 

PARADOKS KEHIDUPAN MANUSIA

 

  Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paradoksal. Sejak dalam kisah penciptaan sifat paradoks itu sudah terlihat. Di satu sisi, manusia diciptakan dari debu tanah dan hal ini menekankan kefanaan dan kehinaan manusia. Di sisi lain, manusia dihidupkan oleh hembusan nafas Allah. Ini menegaskan keistimewaan manusia sampai Allah menyebut manusia sebagai gambar dan rupa-Nya sendiri. Dengan sebutan itu, manusia adalah satu-satunya ciptaan Allah yang memiliki hakikat dan kedudukan sangat mulia. Paradoks itu menjadi masalah berat bagi hidup manusia karena dosa merusakkan keserasian manusia.

 

  Menurut Ayub, penderitaannya kini terkait dengan fakta paradoks tersebut. Di satu pihak, ia menyadari dirinya adalah makhluk yang terbelenggu oleh waktu (2,3), tidak bersifat abadi, dan hidup dalam realitas yang keras (4-6). Jiwa dan raganya mengalami keresahan dan kesakitan. Hidup manusia seperti hembusan nafas yang singkat saja (7-10, bdk. Mzm. 90:5-6). Sesudah mati, ia pun dilupakan. Namun di pihak lain, ia menyadari bahwa manusia agung di mata Tuhan (17). Cinta kasih dan kesetiaan Tuhan seolah tercurah penuh kepada makhluk ciptaan-Nya. Cita-cita Allah membuat manusia agung dan selaras dengan kemuliaan-Nya menjadi motivasi mengapa Allah menjaga (12), mendatangi sampai manusia terkejut (13), memperhatikan (17), menyertai (18), dan menyoroti sepak terjangnya (19).

 

  Kisah Ayub ini perlu kita tanggapi secara benar. Semua manusia memiliki keterbatasan, kekurangan, dan memiliki banyak simpul-simpul rapuh. Akan tetapi, Allah memiliki rencana agung untuk setiap kita.

 

  Renungkan: Jika kita ingin menjadi manusia mulia yang Tuhan cita-citakan, maka proses yang berat harus berani kita jalani. Kalau kita hanya ingin menjadi pribadi yang biasa saja, maka hiduplah mengalir seperti air dan jangan berharap apapun dari Tuhan.

 

Sumber : Santapan Harian Gemass edisi Kitab Ayub

https://www.su-indonesia.org/

▶ Video Pelengkap Bacaan:

Ketika Situasi Sulit Dipahami (Ayub 7) – Petrus Kwik | Bible Every Day

https://youtu.be/f42T5O57VRc

~~~~~

Bacaan besok : Ayub 8:1-22 – Logis Tetap Salah

 

📖 GEMASSplus LEKSIONARI

Tahun C

Minggu Biasa-3

Kamis, 7 Juli 2022

~~~~~

KASIH ITU SEDERHANA

~~~~~

Bacaan hari ini:

Mazmur 25:1-10

Kejadian 41:14-36

Yakobus 2:14-26

 

Tersedia dalam apps GKI Layur

https://bit.ly/GKILayurApps

~~~~~

Bacaan hari ini,  mempersiapkan kita untuk bacaan pada hari Minggu, 10 Juli 2022.

 

Mazmur 25:1-10

Daud mengajarkan sebuah teladan bagaimana harus hidup di dalam Tuhan. Dia menyampaikan doanya dengan mengangkat jiwanya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan memberikan seluruh hati dan jiwanya kepada Tuhan. Landasan doanya adalah kasih penyertaan Tuhan. Daud sangat tahu bahwa relasi dengan Tuhan adalah hal yang terutama dalam hidupnya. Ada banyak hal yang tidak dimengerti, karenanya dia meminta petunjuk dari Tuhan agar memampukannya untuk mengerti. Daud menaruh ketertarikannya untuk mengetahui, mengalami dan menaati jalan-jalan Tuhan, walaupun ia masih sering gagal.  Daud meminta agar dirinya punya hati yang takut akan Tuhan, supaya dirinya bisa memelihara perjanjian dengan Tuhan. Inilah cara Daud mengasihi Tuhan. Maukah kita mengikuti teladan Daud memiliki hati yang berpegang pada perjanjian Tuhan?

 

▶️ Mazmur 25:1-10 ​| Acien (GKI Cimahi)

https://youtu.be/wutJcFduXA4

 

Kejadian 41:14-36

Tuhan Allah mengawasi setiap peristiwa dalam kehidupan umat-Nya sampai ke setiap detail terakhir. Yusuf sendiri mengakui Allah berdaulat ketika dibawa ke hadapan Firaun. Menanggapi komentar Firaun bahwa ia telah mendengar bahwa Yusuf dapat menafsirkan mimpi, Yusuf segera menjawab, “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun” (ay. 16). Dan memang, di sepanjang pasal ini, Yusuf mengetahui semua berasal dari Tuhan: “Tuhan telah mengungkapkan kepada Firaun apa yang akan Dia lakukan” (ay. 25); “Tuhan telah menunjukkan kepada Firaun apa yang akan Dia lakukan” (ay. 28); “hal itu sudah ditentukan oleh Allah” (ay. 32). Kunci untuk menjalani kehidupan yang layak bagi Injil Kristus adalah mengetahui bahwa segala kemuliaan dari buah yang dihasilkan dalam hidup kita adalah bagi dan untuk Allah. 

 

Yakobus 2:14-26

Yakobus mengeksplorasi sifat dari iman yang menyelamatkan. Iman Abraham berhasil ketika ia mempersembahkan Ishak di atas mezbah, dan imannya disempurnakan oleh perbuatannya. Abraham percaya kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Tetapi sekali lagi, iman membuktikan dirinya nyata dengan perbuatan. Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan kita, tetapi perbuatan yang setia mengalir dari iman yang menyelamatkan. Rahab, seorang non-Yahudi dan seorang pelacur, berbeda dengan Abraham dalam segala hal kecuali perbuatannya juga membuktikan imannya. Dia mengklaim bahwa dia takut akan Tuhan dan memanggil Dia, Tuhan, ini terbukti ketika dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyembunyikan mata-mata Israel. Yakobus tidak mengatakan bahwa iman ditambah perbuatan sama dengan pembenaran. Dia setuju dengan Paulus bahwa iman saja yang membenarkan. Tapi dia tahu ada yang disebut “iman” yang berbahaya karena menipu tetapi tidak membenarkan. Ia mengontraskannya dengan iman yang membenarkan — iman yang hidup, yang dasarnya mencerminkan Dia yang di atasnya iman kita bersandar. Senang mengasihi orang lain dengan cara yang nyata.

 

Renungan pelengkap:

https://www.ykb-wasiat.org/wasiat

 

https://youtu.be/7irIfKiyRYo

~~~~~

Bacaan besok:

Mazmur 25:1-10

Kejadian 41:37-49

Kisah Para Rasul 7:9-16