Fokus pada Tujuan, Bukan pada Masalah

Fokus pada Tujuan, Bukan pada Masalah

12 Juni 2022

Bacaan Hari ini:
Filipi 1:22-25 “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman.”

Ketika Anda tetap fokus pada tujuan Anda ketimbang pada masalah Anda, maka Anda dapat bersukacita meski tekanan mdenghimpit Anda.

Paulus telah berusia tua ketika menjalani pemenjaraan di Roma. Dia berada jauh dari rumah. Dia menunggu keputusan dari sang kaisar atas hidupnya. Semuanya telah direnggut darinya—sahabat-sahabatnya, kebebasannya, pelayanannya, dan bahkan privasinya, bersama dengan penjaga kerajaan yang dibelenggu kepadanya selama 24 jam sehari. Jelas, itu bukan waktu yang menyenangkan bagi Paulus.

Namun ada satu hal yang tidak dapat mereka rampas dari Paulus: tujuannya. Paulus membuat pilihan untuk tetap fokus pada tujuannya, bahkan ketika dia telah kehilangan segalanya.

Apakah tujuannya? Melayani Allah dengan melayani sesama.

Paulus berkata dalam Filipi 1:22-25, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman.”

Saya tidak akan pernah lupa buku Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning. Frankl adalah seorang psikiater Yahudi yang ditahan di kamp konsentrasi Nazi, Jerman. Semua keluarga dan teman-temannya dieksekusi dengan gas beracun dan dibunuh. Dalam bukunya ia menulis tentang suatu hari ketika ia berdiri di hadapan Gestapo (polisi Nazi), telanjang bulat. Mereka melucuti pakaian para tahanan, bahkan mengambil cincin kawin Frankl. Ketika ia berdiri di sana tanpa mengenakan apa-apa, tiba-tiba ia tersadar bahwa ada satu hal yang tidak bisa diambil oleh Nazi darinya: pilihannya dalam merespons.

Pilihlah untuk melayani orang lain, bahkan meski Anda terluka.
Pilihlah untuk memaafkan.
Pilihlah untuk fokus pada janji Allah, bukan pada keadaan Anda. Itulah jenis pilihan yang akan menuntun Anda pada iman yang lebih besar, dan kemudian iman Anda akan menghasilkan sukacita yang lebih besar.

Renungkan hal ini:
– Apa yang Anda yakini adalah tujuan hidup Anda?
– Mengapa Tuhan ingin Anda memikirkan orang lain dan melayani mereka, bahkan ketika Anda tengah mengalami situasi sulit sekalipun?
– Bagaimana pilihan Anda untuk fokus pada masalah Anda atau tujuan Anda mencerminkan apa yang Anda yakini tentang Tuhan?

Bacaan Alkitab Setahun :
Ezra 3-5; Yohanes 20

Anda tidak bisa sepenuhnya mengontrol apa yang orang lain hendak lakukan terhadap Anda. Anda tidak bisa mengontrol apa yang orang lain hendak lakukan terhadap orang-orang di dalam hidup Anda. Namun, Anda bisa mengontrol bagaimana Anda akan meresponsnya.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)